DELTA88 – Dunia dikejutkan oleh sebuah skandal kejahatan siber bernilai triliunan rupiah. Kasus ini melibatkan seorang pengusaha yang selama ini dikenal sukses di Kamboja.
Pada Oktober 2025, Departemen Kehakiman Amerika Serikat mendakwa Chen Zhi, pria 37 tahun, sebagai dalang jaringan kejahatan transnasional. Dia dituduh membangun kerajaannya di atas penderitaan korban dari berbagai belahan dunia.
Pemberitaan internasional memuncak ketika otoritas AS menyita aset bitcoin senilai US$14 miliar. Nilainya setara dengan Rp232 triliun. Ini menjadi penyitaan mata uang kripto terbesar dalam sejarah.
Pada awal Januari 2026, pelarian Chen Zhi berakhir. Pemerintah Kamboja menangkap dan mengekstradisinya ke China. Dia kini menjalani penyelidikan atas dugaan keterlibatan dalam operasi kriminal lintas batas.
Di balik citra pengusaha dan dermawan, ternyata tersimpan operasi sistematis. Skema ini melibatkan pencucian uang dan penipuan daring yang sangat canggih. Banyak korban yang tertipu oleh janji investasi menggiurkan.
Kasus ini memberikan pelajaran penting tentang modus kejahatan modern. Mereka memanfaatkan celah hukum dan teknologi untuk menjalankan aksinya. Mari kita gali fakta-fakta mengejutkan di balik skandal ini.
Poin-Poin Penting
- Chen Zhi, pria 37 tahun, didakwa AS sebagai otak jaringan kejahatan siber transnasional yang beroperasi dari Kamboja.
- Otoritas AS menyita bitcoin senilai US$14 miliar (Rp232 triliun) terkait kasus ini, menjadi penyitaan aset kripto terbesar sepanjang sejarah.
- Dia ditangkap dan diekstradisi ke China pada Januari 2026 untuk diselidiki atas dugaan kejahatan lintas negara.
- Di balik kesuksesan konglomerat Prince Group-nya, tersembunyi operasi penipuan daring, perdagangan manusia, dan pencucian uang.
- Kasus ini menunjukkan bagaimana kejahatan modern memanfaatkan teknologi dan celah hukum antar negara.
- Skema ini menargetkan dan merugikan ribuan korban dari berbagai negara di seluruh dunia.
- Perjalanan Chen Zhi dari pria muda asal Fujian menjadi pengusaha kaya raya di Kamboja penuh dengan tanda tanya dan kontroversi.
Latar Belakang dan Perjalanan Karir Chen Zhi
Lahir pada 16 Desember 1987, Chen Zhi memulai usaha pertamanya dengan membuka warnet kecil di Fuzhou. Ia juga mencoba bisnis game internet yang tidak terlalu sukses.
Keputusannya pindah ke Kamboja pada akhir 2010 menjadi titik balik. Saat itu, sektor properti sedang mengalami ledakan spekulatif.

Awal Karir di China dan Kepindahan ke Kamboja
Ledakan properti didorong oleh membanjirnya investasi dari China. Program Inisiatif Sabuk dan Jalan membuka peluang besar.
Sektor ini menawarkan lahan luas yang bisa diakses investor asing. Chen Zhi dengan cepat memanfaatkan momentum ini.
Transformasi Bisnis dan Investasi di Sektor Properti
Pada 2014, dia mengambil langkah strategis. Dia melepaskan kewarganegaraan China dan menjadi warga negara Kamboja.
Keputusan ini membutuhkan sumbangan minimum US$250.000 kepada pemerintah. Hal ini memungkinkannya membeli tanah atas namanya sendiri.
Dia mendirikan Prince Group pada 2015 di usia 27 tahun. Group ini awalnya fokus pada pengembangan properti.
Transformasi Phnom Penh sangat drastis. Menara kaca dan baja menggantikan rumah-rumah kolonial Prancis.
Sumber modal awalnya tetap menjadi misteri. Dia mengklaim mendapat US$2 juta dari seorang paman, tetapi tidak ada bukti.
| Tahun | Peristiwa Penting | Lokasi |
|---|---|---|
| 2010/2011 | Pindah ke Kamboja, memulai bisnis properti | Kamboja |
| 2014 | Menjadi warga negara Kamboja | Phnom Penh |
| 2015 | Mendirikan Prince Group | Kamboja |
| 2011-2019 | Membangun kerajaan properti dan konglomerasi | Phnom Penh & Sihanoukville |
Mengenal Raja Scam Kambodia: Dari Bisnis Properti ke Penipuan Daring
Perusahaan milik Chen Zhi menggambarkannya sebagai “seorang pengusaha yang dihormati dan filantropis terkenal”. Narasi publik ini dibangun dengan sangat hati-hati.
Di balik citra tersebut, ekspansi bisnis-nya sangat agresif dan mencurigakan.
Citra Publik dan Aktifitas Filantropi
Media lokal kerap memuji kontribusi pria ini dalam kegiatan sosial. Dia mendanai beasiswa dan membantu penanganan pandemi.
Prince Foundation, sayap filantropi Prince Group, bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan. Donasi besar ditampilkan secara luas.
Citra ini menciptakan pelindung bagi operasi grup-nya yang sebenarnya.
Realita di Balik Gelar Kehormatan dan Kewarganegaraan Ganda
Pada 2020, Chen Zhi dianugerahi gelar “Neak Oknha”. Gelar tertinggi dari raja ini membutuhkan sumbangan minimal US$500.000.
Dia juga mengumpulkan paspor dari Siprus dan Vanuatu. Kewarganegaraan ganda ini memberi akses mudah ke yurisdiksi lain.
Koneksinya dengan pemerintah Kamboja sangat dalam. Dia menjadi penasihat resmi bagi menteri dan perdana menteri.
| Jenis Keuntungan | Nama/Asal | Persyaratan/Minimal |
|---|---|---|
| Gelar Kehormatan | Neak Oknha (Kamboja) | Sumbangan US$500.000 |
| Kewarganegaraan | Siprus | Investasi US$2,5 juta |
| Kewarganegaraan | Vanuatu | Program Investasi |
| Lisensi Perbankan | Prince Bank (2018) | Lisensi Komersial |
Ekspansi Prince Group mencakup Prince Bank, maskapai penerbangan, dan proyek properti mega. Sumber dana untuk semua ini tetap menjadi tanda tanya besar.
Ambisi bisnisnya yang luar biasa ternyata didanai dari sumber yang sangat mencurigakan.
Jaringan Kejahatan Transnasional dan Operasi Penipuan
Amerika Serikat dan Inggris secara resmi mengungkap sumber kekayaan sebenarnya dari konglomerasi tersebut. Kekayaan itu berasal dari penipuan daring, disertai perdagangan manusia dan pencucian uang.
Operasi ini membentuk sebuah jaringan kejahatan transnasional yang sangat rumit.
Skema Penipuan Daring yang Menggebrak Pasar Global
Skema andalan mereka disebut “pig butchering” atau penyembelihan babi. Para pekerja di kompleks tertutup membangun kepercayaan dengan korban selama berminggu-minggu.
Mereka lalu membujuk korban untuk mentransfer mata uang kripto dengan janji keuntungan besar. Setidaknya ada 10 kompleks penipuan yang dibangun di seluruh negeri tersebut.
Pusat utamanya adalah Golden Fortune Science and Technology Park. Ribuan pekerja dari berbagai negara dipaksa bekerja di sana.
Peran Jaringan Kripto, Pencucian Uang, dan Perdagangan Manusia
Uang hasil penipuan daring kemudian dicuci melalui perusahaan cangkang dan dompet mata uang kripto. Jaringan pencucian uang ini dirancang untuk menghindari deteksi.
Para pekerja yang menjadi korban perdagangan manusia hidup dalam kondisi mengerikan. Mereka menghadapi penyiksaan fisik jika mencoba kabur atau gagal memenuhi target.
Skala kerugian bagi korban global mencapai miliaran dolar. Jaringan kriminal ini pernah meraup hingga US$30 juta dalam satu hari.
Dampak Sanksi Internasional dan Penangkapan Chen Zhi
Dakwaan resmi dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat menandai awal keruntuhan kerajaan bisnis Chen Zhi. Pada Oktober 2025, otoritas AS mendakwanya atas konspirasi penipuan elektronik dan pencucian uang.
Tuduhan ini mengancam hukuman hingga 40 tahun penjara. Bersamaan dengan itu, sekitar 127.271 Bitcoin senilai US$11-15 miliar disita.
Reaksi Pemerintah dan Otoritas Global
Langkah hukum segera diikuti oleh sanksi dari berbagai negara. AS dan Inggris membekukan aset 128 perusahaan terkait Prince Group dan 17 individu.
Koordinasi global ini menghasilkan pembekuan dana besar di Asia. Singapura menyita aset US$115 juta, Hong Kong US$354 juta, dan Taiwan US$147 juta.
Otoritas Korea Selatan juga membekukan US$64 juta simpanan grup tersebut. Berita ini mengguncang sektor keuangan.
| Negara/Otoritas | Jenis Tindakan | Nilai Aset (USD) |
|---|---|---|
| Amerika Serikat & Inggris | Sanksi & Pembekuan Aset | Miliaran (Bitcoin + Aset) |
| Singapura | Penyitaan Properti & Rekening | 115 juta |
| Hong Kong | Pembekuan Aset | 354 juta |
| Kamboja (Prince Bank) | Status Likuidasi | Seluruh Operasi |
Pemerintah Kamboja akhirnya bertindak pada Januari 2026. Mereka menangkap dan mengekstradisi Chen Zhi ke China.
Kewarganegaraannya dicabut. Prince Bank pun masuk status likuidasi, mengakhiri operasi keuangan grup tersebut.
Kesimpulan
Kasus Chen Zhi bukan sekadar kisah seorang taipan yang jatuh. Ini adalah cermin kegagalan sistemik dalam pengawasan kejahatan finansial global. Pengacara, bankir, dan agen properti di banyak negara seharusnya mencurigai sumber kekayaan yang tidak masuk akal.
Ribuan korban telah kehilangan investasi senilai miliaran dolar dalam mata uang kripto. Pemerintah setempat kini mendapat tekanan besar untuk membersihkan industri penipuan daring yang telah mengakar.
Namun, kerja sama lintas negara yang menjatuhkan jaringan ini memberi harapan. Kasus ini menjadi peringatan keras untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aliran dana mencurigakan dan praktik pencucian uang. Keruntuhan Prince Group menunjukkan bahwa kejahatan transnasional bisa dikalahkan ketika penegakan hukum global bersatu.
FAQ
Mengapa Chen Zhi dijuluki “Raja Scam Kambodia”?
Apa latar belakang bisnis Chen Zhi sebelum terlibat skandal?
Bagaimana modus operandi penipuan daring ini bekerja?
Apakah ada keterkaitan dengan kejahatan transnasional lain?
Apa dampak sanksi internasional terhadap kasus ini?
Writer : Bocah S0ber
Publish : Extranewss.com